contoh essai sastra

    Gaes, lo pernah baca essai sastra ngga sih, diantara sekian banyaknya jenis essai, essai apa yang paling sering lo baca? Oiya, ngomongin soal essai sastra nih, lo tau ngga sih contoh essai sastra itu kayak gimana? 

    Ada beberapa ciri khusus yang bisa lo pahami buat mengenal essai sastra nih gaes, pertama tuh isinya lebih pendek, jadinya pembaca ngga bakalan ngehabisin banyak waktu buat selesai ngebaca essai sastra. Trus yang kedua, isinya tuh berupa argument, gagasan ataupun penilaian dan sikap yang murni bersumber dari penulisnya sendiri. Ketiga, isi dari sebuah essai sastra sudah tentu bersifat subjektif, dikarenakan pembahasan pada ciri yang kedua. Trus ciri yang terakhir itu, strukturnya masih terbilang sama dengan berbagai jenis essai lainnya, yakni terdiri dari pendahuluan, isi trus penutup, jadi, para pembaca ngga bakalan kesulitan untuk mencerna tulisan essai sastra. 

    Jadi, kayak gimana sih contoh essai sastra? Nih, udah gue siapin beberapa contoh yang gue kutip dari berbagai sumber ; 

    Modernisasi Dalam Konservasi

    Pelestarian sastra harus mencakup generasi muda. Ini penting karena generasi muda akan menjadi penerus dan pemegang warisan budaya di masa depan. Untuk mencapai misi ini, kegiatan konservasi budaya harus dilakukan dalam langkah-langkah modern. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik bagi kaum muda yang hidup di dunia saat ini.

    Di zaman modern seperti itu, pelestarian budaya dapat dilakukan melalui program radio, televisi, film, Internet dan media cetak. Jika budaya disajikan dalam bentuk seperti itu, generasi muda pasti akan tertarik karena budaya tidak kuno dan ketinggalan jaman bagi mereka. Saya sangat senang karena langkah seperti ini sudah dimulai.

    Ambillah, misalnya, kata wayang yang disiarkan oleh Kompas TV, yang membawa wayang lebih dekat kepada generasi muda karena disajikan dengan cara modern. Kasus lain adalah lagu pop Bali. Lagu-lagu pop Bali secara tidak sadar melestarikan bahasa Bali dan generasi muda menyukai bahasa Bali.

    Santri

    Gus Dur pernah menulis esai pendek berjudul “Pesantren dalam Sastra Indonesia”, yang diterbitkan dalam edisi Kompas 26 November 1973. Gus Dur mengalami kesulitan mengirimkan teks-teks sastra modern di Indonesia yang melaporkan kehidupan di Pesantras. Karakter para pendeta dan Santri jarang diperlakukan oleh penulis sebagai cerita yang rapi. Gus Dur hanya bisa memastikan bahwa penulis “sekolah” Pesantren adalah Djamil Suherman. Gus Dur mengajukan nama, tetapi tidak memberikan penjelasan atau apresiasi atas teks dan klaim Djamil Suherman. Dalam paragraf pertama, Gus Dur menulis: “Sebagai objek sastra, dapat dikatakan bahwa pesantras belum mendapat perhatian penulis, meskipun banyak dari mereka telah menikmati kehidupan pesantre. Hanya Djamil Suherman yang pernah berkultivasi di bidang ini, berturut-turut. cerita pendek di tahun lima puluhan dan enam puluhan.

    Gus Dur tidak berniat memperlihatkan tulisan suci setelah beberapa dekade. esai itu sepertinya ditinggal sendirian. Kalimat tersebut ditulis oleh Gus Dur jauh sebelum novel Perempuan Berkalung Sorban (2001) dan Geni Jora (2004) oleh Abidah el Khaleqy. Novel Negeri 5 Menara (2009) karya Ahmad Fuadi juga tidak perlu dibahas oleh Gus Dur. Karena Ahmad Fuadi memberi kesan Pesantrenan pada halaman pertama novel: “Novel ini terinspirasi oleh pengalaman penulis untuk menikmati pendidikan instruktif di Fontor Islamic Boarding School. Semua karakter utama terinspirasi oleh karakter asli, beberapa kombinasi dari beberapa karakter nyata. “Novel ini laris di pasaran. Siswa tergoda untuk membaca dan melaksanakan proses pembangunan identitas dengan aliran sastra pesantre. Waktu telah berubah. Kalimat-kalimat lama Gus Major dapat “disangkal” dengan menambahkan informasi atau mengirim ide lebih lanjut.Jadi, kayak gitu gaes, beberapa contoh essai sastra yang gue kutip dari https://majalahpendidikan.com semoga bisa membantu lo buat memahami essai sastra.