angka romawi

    Bagaimana ya awal mula sejarah angka romawi itu ada? Simak penjelasannya di artikel berikut ini ya. Pssstt….ada juga sistematika penulisannya lho.

    Sejarah Angka Romawi

    Angka Romawi adalah simbol dari Kerajaan Romawi kuno yang biasa digunakan untuk merepresentasikan angka-angka kecil dan besar. Angka Romawi ini digunakan selama berabad-abad dan menyebar ke Eropa hingga abad pertengahan. Sistem Angka Romawi ini sudah berkembang sekitar 500 tahun sebelum masehi, ketika bangsa Romawi menguasai dunia.

    Sebenarnya Bangsa Romawi mengadopsi simbol yang mereka gunakan dalam angka-angka Romawi dari berbagai macam sumber. Misalnya asal mula angka I yang melambangkan satu, berasal dari jari yang terangkat ketika menghitung sesuatu yang berjumlah satu. Lambang V berdasarkan dari bentuk jari telunjuk dan ibu jari ketika menghitung sesuatu yang berjumlah lima.

    Baca Juga: Pengertian, Contoh, dan Tujuan Pendidikan Karakter

    Sistem Penulisan Angka Romawi

    Pada awalnya, angka Romawi hanya menggunakan tiga simbol, di antaranya adalah I, V dan X (1, 5 dan 10 secara berurutan). Sistem pada angka Romawi yang kuno ini hanya menambahkan 1 (I) seiring berjumlahnya nominal dalam angka yang akan disebutkan. Misalnya ketika menulis angka 4 dalam angka Romawi kuno, direpresentasikan dengan IIII. Angka 7 menjadi VII, angka 9 menjadi VIIII. Sehingga, penulisan angka 1 hingga 10 dalam Romawi kuno adalah:

    I, II, III, IIII, V, VI, VII, VIII, VIIII, dan X

    Angka Romawi yang di atas sebenarnya dapat membuat orang-orang kebingungan ketika membacanya. Misalnya saja, IIII dapat tertukar dengan III jika membacanya secara sekilas. Sehingga, berabad-abad kemudian, terdapat sistem penambahan dan pengurangan yang digunakan dalam angka Romawi. Jadi penulisan angka 4 yang awalnya IIII berubah menjadi IV. Lambang ā€œIā€ sebelum lambang ā€œVā€ menandakan bahwa 5 kurang 1. Kemudian penulisan angka 9 menjadi IX. Sehingga, penulisan angka 1 hingga 10 menggunakan sistem penambahan dan pengurangan akan menjadi seperti ini:

    I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, dan X

    Untuk jumlah di atas 10, simbol X, L (50) dan C (100) sering digunakan. Dalam hal ini, sistem penambahan dan pengurangan juga berlaku. Menaruh simbol di sebelah kiri simbol yang lain, maka sistem yang berlaku adalah pengurangan. Kebalikannya, jika suatu simbol berada di sebelah kanan simbol yang lain, maka sistemnya adalah penambahan. Untuk jumlah 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, dan 100 penulisannya adalah sebagai berikut:

    X, XX, XXX, XL, L, LX, LXX, LXXX, XC, dan C

    Dalam bentuk yang serupa dengan di atas, jumlah ratusan hingga seribu menggunakan sistem yang serupa. D merepresentasikan 500 dan M merepresentasikan 1000. Sehingga CD merepresentasikan bilangan 400. Lalu CM merepresentasikan bilangan 900. Sehingga, penulisan bilangan 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900, dan 1000 dalam angka Romawi adalah sebagai berikut:

    C, CC, CCC, CD, D, DC, DCC, DCCC, CM, dan M

    Lebih jelas lagi, penulisan angka Romawi sebenarnya bisa melambangkan angka berapa saja, dengan menggunakan sistem penambahan dan pengurangan. Misalnya ketika ingin menuliskan bilangan 78 dalam angka Romawi, sistem yang digunakan adalah penambahan. dan penulisannya sebagai berikut:

    LXXVIII jika dipecah, susunannya adalah: 50 + 10 + 10 + 5 + 1 + 1 + 1 = 78

    Hal ini juga berlaku ketika ingin menuliskan angka 90. Maka sistem yang digunakan adalah sistem pengurangan, dan penulisannya sebagai berikut:

    XC jika dipecah, susunannya adalah: 100 – 10 = 90.

    Selain itu, kita juga bisa menggabungkan kedua sistem. Misalnya ketika ingin menuliskan bilangan 544, maka penulisannya sebagai berikut:

    DXLIV jika dipecah, susunannya adalah: 500 + (50 – 10) + (5 – 1) = 544.

    Baca Juga: Pengertian dan Pemanfaatan Teknologi Digital

    Penggunaan Angka Romawi

    Angka Romawi sering menjadi fitur pada jam dan arloji akhir-akhir ini. Yang paling sering terlihat ada pada jam-jam yang menjadi yang terkenal di dunia. Misalnya saja pada jam raksasa di Istana Westminster, United Kingdom, atau Big Ben. Angka Romawi yang tertera pada jam raksasa tersebut juga menggunakan sistem penambahan dan pengurangan.

    Tapi yang menarik, struktur bangunan pasca kerajaan Romawi, jarang menggunakan sistem penambahan dan pengurangan. Misalnya saja pada Admiralty Arch di London, yang menuliskan bilangan 1910 dengan MDCCCX. Jika menggunakan sistem penambahan dan pengurangan yang biasanya berlaku, seharusnya tertulis MCMX. Jam pada Grand Central di New York juga sama. Penulisan angka 4 bukanlah IV, tapi IIII.

    kode diskon ruangguru terbaru